Australia Tetapkan Upah Pekerja Ojol Rp 395 Ribu per Jam, Bagaimana dengan Indonesia?
PSG Juara UEFA Super Cup 2026 Menang Tipis Atas Aston Villa di Final
Perjuangkan Tambahan TKD Terdampak Bencana, Bobby Nasution Minta Kepastian Acuan Anggaran 2027
Perkuat Tata Kelola Keuangan Daerah, Rico Waas Minta Perangkat Daerah Terapkan ASB Secara Konsisten
Wakil Wali Kota Medan Terima Sultan Deli, Bahas Kenduri Diraja Hingga Revitalisasi Istana Maimun
Dinas Kominfo Medan Optimalkan Media Sosial, Ubah Narasi lewat Publikasi Pembangunan
Finalisasi HUT ke-81 RI, Wabup Toba Tekankan Keseragaman
Terpilih Secara Aklamasi, Makmur Sinaga Ketua PPTSB Kabupaten Labuhanbatu Periode 2026-2030
RDP di DPR RI, Kombes Calvijn Ungkap Kasus Kematian WLG dengan Scientific Crime Investigation
Gubernur Bobby Nasution Ingin Olahraga Sumut Jadi Industri Berdaya Saing
Eksklusif Pdt. Gloria Iriany Balle: Kami Tak Anti Pembangunan, Tapi Jangan Rampas Hak Ibadah
Random Video
- Kapal Feri Danau toba
- Walikota Ikut Tertawa Gegara Kisah Nyata Tim Medis Terkait Nama Si Lingga
- Jalan Rakut Besi Akan Dibangun Rp 13 M, Petani Jeruk dan Cabai Silimakuta Gembira
- Eksklusif Pdt. Gloria Iriany Balle: Kami Tak Anti Pembangunan, Tapi Jangan Rampas Hak Ibadah
- Kapolda Ungkap Dalang Kerusuhan di Madina
RADARMEDAN.COM – Di tengah pusaran polemik dan ancaman pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU), Gembala Sidang Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., akhirnya angkat bicara secara terbuka.
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif Radarmedan.com, sosok yang telah puluhan tahun menggembalakan jemaat di area kampus tersebut membongkar tabir keresahan umat yang merasa diintimidasi di tempat ibadah mereka sendiri.
Wawancara memperlihatkan ketegaran sekaligus kesedihan Pdt. Gloria melihat rumah doa tempat jemaat bernaung kini dihadapkan pada ancaman eksekusi berbalut dalih renovasi.
Ia secara tegas menyayangkan sikap Rektorat USU yang cenderung represif dengan menebar surat peringatan, bukannya membuka ruang musyawarah.
"Sebagai gembala, saya sangat menyayangkan tindakan yang berujung pada penutupan dan rencana pengosongan sepihak ini. Jemaat sejatinya tidak pernah menutup mata atau menentang niat baik dari pihak kampus terkait perbaikan fasilitas. Namun, cara-cara paksaan seperti ini sangat mencederai rasa keadilan jemaat," ungkap Pdt. Gloria.
Ia menekankan bahwa konflik yang membelit Gereja POUK USU bukanlah sekadar sengketa fisik bangunan atau aset tanah semata, melainkan menyangkut kebebasan mendasar jemaat untuk melaksanakan ibadah dengan tenang dan damai.
"Tindakan intimidasi seperti pemagaran seng, pencopotan spanduk oleh satpam, hingga ancaman penertiban, menurutnya sangat tidak mencerminkan wajah kaum intelektual di sebuah institusi pendidikan tinggi," ucapnya.
Iya juga menyayangkan adanya upaya intimidasi oleh oknum yang masuk hngga ke kamar pribadinya seraya mengusirnya.
Lebih lanjut, Pdt. Gloria menyoroti akar masalah yang ditengarai bermula dari konflik internal kepengurusan, yang kemudian merembet dan dimanfaatkan untuk memuluskan agenda pengosongan. Ia pun mendesak semua pihak, terutama Rektorat USU, untuk menanggalkan arogansi dan kembali pada pendekatan yang humanis.
"Masalah internal ini seharusnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama, dari hati ke hati, tanpa harus mengekang kebebasan umat beragama. Kami berharap pihak rektorat maupun oknum-oknum terkait dapat membuka mata. Mari kita selesaikan masalah ini dengan mengedepankan dialog dan semangat kasih Kristus, bukan dengan ancaman," ucapnya penuh harap.
Pdt. Gloria juga menegaskan bahwa jemaat dan majelis POUK akan tetap bertahan secara damai untuk mempertahankan hak ibadah mereka. Ia percaya bahwa kebenaran dan keadilan akan menemukan jalannya, asalkan pihak-pihak yang memiliki otoritas bersedia memfasilitasi penyelesaian ini secara transparan, berkeadilan, dan lepas dari intervensi kelompok tertentu.
Kini, publik dan ribuan jemaat menanti, akankah suara lirih namun tegas dari sang gembala ini mampu mengetuk pintu hati para petinggi di Rektorat USU.(HM)
