Saluran Dibilang DAS, Ini Kata Keluarga Ahli Waris Pdt. Golfried Siregar
Rico Waas Bangga Anak Medan Harumkan Nama Bangsa di Kancah Global
Polda Sumut dan Polres Pelabuhan Belawan Bagikan 1.500 Paket Sembako
Inggris Menang Atas Kroasia di Grup L Piala Dunia FIFA 2026
Tidak Ada Lagi Kutipan Liar di Jalur Menuju Sidebuk Debuk, Warganet Apresiasi Bobby Nasution
Wali Kota Medan Tegaskan Ulama Jangan Dijadikan Objek Kepentingan Sesaat
Pemkab Toba Peringati Gugurnya Pahlawan Sisingamangaraja XII ke 119
MTQ ke-40 Sumut Resmi Dibuka, Bobby Nasution Ajak Implementasikan Nilai Alquran dalam Pembangunan
Pemilik Ganja 12,36 Gram Berhasil Diamankan Polres Pematangsiantar di jalan Merbau
Polres Simalungun Ringkus 69 Tersangka Kejahatan 3C dan Bongkar Perdagangan Satwa Dilindungi
Eksklusif Pdt. Gloria Iriany Balle: Kami Tak Anti Pembangunan, Tapi Jangan Rampas Hak Ibadah
Random Video
- Erupsi Gunung Sinabung
- Michelle Ziudith Disambut Histeris di Medan, Bocorkan Kisah Film Jangan Panggil Mama Kafir
- Walikota Ikut Tertawa Gegara Kisah Nyata Tim Medis Terkait Nama Si Lingga
- Vidio Banjir di Desa Bandar Durian Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhanbatu Utara (Jumat, 24 Juli 2020)
- Air Terjun Sipiso-piso Ditutup OTK, Kadis Pariwisata Karo Berang
RADARMEDAN.COM – Di tengah pusaran polemik dan ancaman pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU), Gembala Sidang Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., akhirnya angkat bicara secara terbuka.
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif Radarmedan.com, sosok yang telah puluhan tahun menggembalakan jemaat di area kampus tersebut membongkar tabir keresahan umat yang merasa diintimidasi di tempat ibadah mereka sendiri.
Wawancara memperlihatkan ketegaran sekaligus kesedihan Pdt. Gloria melihat rumah doa tempat jemaat bernaung kini dihadapkan pada ancaman eksekusi berbalut dalih renovasi.
Ia secara tegas menyayangkan sikap Rektorat USU yang cenderung represif dengan menebar surat peringatan, bukannya membuka ruang musyawarah.
"Sebagai gembala, saya sangat menyayangkan tindakan yang berujung pada penutupan dan rencana pengosongan sepihak ini. Jemaat sejatinya tidak pernah menutup mata atau menentang niat baik dari pihak kampus terkait perbaikan fasilitas. Namun, cara-cara paksaan seperti ini sangat mencederai rasa keadilan jemaat," ungkap Pdt. Gloria.
Ia menekankan bahwa konflik yang membelit Gereja POUK USU bukanlah sekadar sengketa fisik bangunan atau aset tanah semata, melainkan menyangkut kebebasan mendasar jemaat untuk melaksanakan ibadah dengan tenang dan damai.
"Tindakan intimidasi seperti pemagaran seng, pencopotan spanduk oleh satpam, hingga ancaman penertiban, menurutnya sangat tidak mencerminkan wajah kaum intelektual di sebuah institusi pendidikan tinggi," ucapnya.
Iya juga menyayangkan adanya upaya intimidasi oleh oknum yang masuk hngga ke kamar pribadinya seraya mengusirnya.
Lebih lanjut, Pdt. Gloria menyoroti akar masalah yang ditengarai bermula dari konflik internal kepengurusan, yang kemudian merembet dan dimanfaatkan untuk memuluskan agenda pengosongan. Ia pun mendesak semua pihak, terutama Rektorat USU, untuk menanggalkan arogansi dan kembali pada pendekatan yang humanis.
"Masalah internal ini seharusnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama, dari hati ke hati, tanpa harus mengekang kebebasan umat beragama. Kami berharap pihak rektorat maupun oknum-oknum terkait dapat membuka mata. Mari kita selesaikan masalah ini dengan mengedepankan dialog dan semangat kasih Kristus, bukan dengan ancaman," ucapnya penuh harap.
Pdt. Gloria juga menegaskan bahwa jemaat dan majelis POUK akan tetap bertahan secara damai untuk mempertahankan hak ibadah mereka. Ia percaya bahwa kebenaran dan keadilan akan menemukan jalannya, asalkan pihak-pihak yang memiliki otoritas bersedia memfasilitasi penyelesaian ini secara transparan, berkeadilan, dan lepas dari intervensi kelompok tertentu.
Kini, publik dan ribuan jemaat menanti, akankah suara lirih namun tegas dari sang gembala ini mampu mengetuk pintu hati para petinggi di Rektorat USU.(HM)
