Inggris Umumkan Larangan Media Sosial untuk Anak Usia di Bawah 16 Tahun Pemerintah Inggris menargetkan aturan tersebut mulai berlaku pada awal tahun depan
Oleh : Syaiful W Harahap | 16 Jun 2026, 20:49:05 WIB | 👁 83 Lihat Internasional
Keterangan Gambar : Larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun di Inggris ditargetkan akan diajukan ke Parlemen sebelum Natal. (Foto: dw.com/id - Carlos Jasso/PA Images/picture alliance)
RADARMEDAN.com – Inggris akan mengikuti jejak Australia dan Indonesia dengan meluncurkan larangan remaja menggunakan media sosial (Medsos). PM Keir Starmer mengatakan platform media sosial membuat anak muda “tidak bahagia.” Matt Ford melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 16/6/2026).
Kebijakan pelarangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun di Inggris diumumkan oleh pemerintah pada Senin (15/5/2026). Pemerintah Inggris menargetkan aturan tersebut mulai berlaku pada awal tahun depan.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengatakan bahwa platform media sosial yang banyak digunakan, seperti Snapchat, TikTok, YouTube, Instagram, Facebook, dan X (dulu Twitter) "dirancang untuk membuat ketagihan,” sehingga berpotensi menjadi "berbahaya” dan membuat anak-anak "tidak bahagia.”
Inggris menargetkan aturan tersebut disahkan menjadi undang-undang pada Desember mendatang dan mulai berlaku pada awal 2027. Kebijakan ini mengikuti langkah negara lain, seperti Australia, Kanada, Brasil, dan Indonesia yang telah lebih dulu menerapkan pembatasan serupa.
"Setiap orang tua bisa melihat sendiri kalau media sosial membuat anak-anak tidak bahagia,” kata Starmer, yang memiliki dua anak remaja.
"Saya mendengar langsung dari keluarga yang meminta perubahan, dan kami akan melakukan yang terbaik untuk mereka,” tambahnya.
Kebijakan ini disambut baik oleh sejumlah aktivis, termasuk Pangeran Harry dan Meghan Markle. Namun, aturan ini diperkirakan akan memicu perlawanan dari raksasa teknologi AS yang menilai larangan total justru dapat mendorong anak-anak ke ruang digital yang pengawasannya lebih minim.
"Larangan total mendorong anak-anak keluar dari pengalaman yang lebih terkurasi, diawasi, dan pengalaman yang bermanfaat, menuju layanan anonim yang kurang aman,” kata juru bicara YouTube. Sementara itu, Meta mengatakan larangan tersebut dapat mendorong remaja beralih ke alternatif online tanpa kontrol orang tua.
PM Inggris: Saya yakin kami bisa menegakkan aturan ini
Starmer mengakui adanya tantangan tersebut dan mengatakan sebagian remaja akan mencoba mengakali larangan itu. Namun, ia membandingkannya dengan pembatasan usia untuk alkohol dan tembakau.
"Beberapa remaja mencari cara untuk minum sebelum waktunya, tetapi itu tidak berarti kita menyerah untuk menghentikan mereka membeli alkohol,” katanya. "Saya yakin kita bisa menegakkannya.”
Saat ini, Starmer tengah berada di bawah tekanan politik dalam negeri terkait isu biaya hidup, imigrasi, dan belanja militer, serta kemungkinan menghadapi tantangan kepemimpinan dari dalam Partai Buruh dalam beberapa minggu ke depan.
Namun, pelarangan media sosial ini berpotensi menjadi langkah populer dan menjadi warisan politik positif baginya karena menurut survei, 90% orang tua Inggris dilaporkan mendukung kebijakan tersebut.
"Perusahaan teknologi, jika mereka mau melakukan perubahan, mereka sudah bisa melakukannya, tapi mereka memilih tidak melakukannya,” kata Ellen Roome, seorang aktivis keselamatan anak di dunia digital yang anaknya meninggal dunia karena bunuh diri saat berusia 14 tahun.
"Kita perlu bersikap tegas kepada mereka. Jika mereka tidak mau melakukannya, kita harus sangat ketat.”
Apa pendapat remaja soal larangan ini?
Sejumlah anak muda yang diwawancarai Kantor Berita “AFP” memberikan respons beragam soal pengumuman larangan ini.
"Menurut saya, ini hal yang baik. Jujur saja, karena saya bahkan tidak ingat umur berapa saya mulai punya Instagram, tapi itu terlalu dini,” kata Connie Skitt, seorang mahasiswa. "Anda jadi berteman dengan orang yang tidak dikenal. Itu tidak aman,” tambah remaja berusia 19 tahun itu.
Sementara, Tom Warvell, seorang pemandu wisata berusia 18 tahun, menilai usia 16 tahun "agak terlalu tinggi" dan berpendapat bahwa remaja yang lebih muda justru "lebih tepat untuk menjadi sasaran kebijakan ini," karena "zaman sudah berubah, sehingga penting bagi orang-orang untuk tetap bisa menggunakannya."
Larangan ini juga berpotensi memicu ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump, setelah Kedutaan Besar AS di London menyatakan penolakan terhadap "larangan media sosial yang luas” pada awal bulan Juni lalu.
Namun, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyambut langkah Inggris tersebut, dengan mengatakan bahwa "perusahaan media sosial beroperasi lintas negara. Dengan bersatu, kita bisa lebih efektif meminta pertanggungjawaban mereka dan menjaga anak-anak tetap aman secara online.” (Sumber: AFP, AP)/Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Tezar Aditya/Editor: Rizki Nugraha (dw.com/id). [*]
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .
RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran.
Update Ddata terbaru, . . .
Tulisan Kiriman Hanina Afifah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU
RADARMEDAN.COM - Bagi sebagian orang, bahkan mungkin Anda salah satunya, olahan herbal sering terdengar meragukan dalam mendukung pemulihan kesehatan. Namun, Michael Aditya (32) membuktikan lewat kisahnya. Tak pernah sebelumnya terlintas di benak pria asal Surabaya ini, . . .