Mustahil LSL di Kota Tebingtinggi Bisa Mendominasi Penyebaran HIV/AIDS Salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah melalui hubungan seksual penetrasi
Oleh : Syaiful W Harahap | 11 Agu 2026, 09:19:13 WIB | 👁 351 Lihat Kesehatan
Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber: farmaciaparavizzini.it)
Oleh: Syaiful W Harahap*
RADARMEDAN.com – “Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi (Sumatera Utara/Sumut-Pen.) membeberkan tren penemuan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam lima tahun terakhir yang menunjukkan angka fluktuatif namun masih cukup tinggi, dengan penyebaran tertinggi tetap didominasi populasi kunci Lelaki Suka Lelaki (LSL).” Ini lead pada berita “Dinkes Tebingtinggi Beberkan Tren HIV 5 Tahun Terakhir, Kasus Tertinggi Masih Pada Populasi Lelaki Suka Lelaki” (forumkeadilansumut.com, 8 Mei 2026).
Ada yang tidak akurat pada pernyataan di lead berita ini, yaitu:
Pertama, menutut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dominasi adalah penguasaan oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah (dalam bidang politik, militer, ekonomi, perdagangan, olahraga, dan sebagainya) (https://kbbi.web.id/dominasi).
Nah, bagaimana kalangan LSL bisa mengusai penyebaran HIV di Kota Tebingtinggi?
Secara medis salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah melalui hubungan seksual penetrasi (vaginal dan anal) di dalam dan di luar nikah tanpa kondom pada kalangan heteroseksual, homoseksual dan biseksual.
Matriks: Orientasi Seksual. (Foto: Dok Pribadi/Syaiful W. Harahap/AIDS Watch Indonesia)
LSL sejatinya bukan homoseksual (murni) karena seperti yang dikemukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC-Centers for Disease Control and Prevention) AS menyebut LSL merupakan kelompok yang beragam dalam hal perilaku, identitas, dan kebutuhan perawatan kesehatan. Istilah “LSL” sering digunakan secara klinis untuk merujuk pada perilaku seksual semata, tanpa memandang orientasi seksual (misalnya, seseorang mungkin mengidentifikasi dirinya sebagai heteroseksual tetapi masih diklasifikasikan sebagai LSL). (cdc.gov, 2021).
Maka, laki-laki pengidap HIV/AIDS yang disebut-sebut sebagai LSL di Indonesia tidak otomatis gay dengan orientasi seksual sebagai homoseksual (secara seksual tertarik kepada sesama jenis) karena ternyata mereka mempunyai istri dan anak. Gay sendirisama sekali tidak tertarik kepada perempuan, maka yang disebut-sebut sebagai LSL di Indonesia adalah laki-laki heteroseksual dengan perilaku LSL.
Bagaimana cara LSL yang terdeteksi HIV-positif di Kota Tebingtinggi melarang kalangan heteroseksual, homoseksual (minus lesbian) dan biseksual melalukan hubungan seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS?
Kedua, apakah semua LSL pengidap HIV/AIDS di Kota Tebingtinggi tidak ada yang mempunyai istri dan anak?
Ketiga, apakah Dinkes Kota Tebingtinggi bisa membuktikan bahwa LSL yang terdeteksi HIV-positif tersebut benar-benar tertular lewat seks anal berisiko?
Tidak bisa!
Keempat, apakah Dinkes Kota Tebingtinggi bisa menjamin bahwa LSL yang terdeteksi HIV-positif di Kota Tebingtinggi tersebut benar-benar tidak pernah melakukan hubungan seksual berisiko dengan perempuan?
Tidak bisa!
Maka, apa sebenarnya motif di balik penyesatan publik yang mengait-ngaitkan LSL menguasai penyebaran HIV/AIDS di Kota Tebingtinggi?
Secara empiris mengait-ngaitkan LSL menguasai penyebaran HIV/AIDS di Kota Tebingtinggi justru mendorong insiden infeksi HIV baru di kalangan heteroseksual. Mereka menganggap tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena mereka bukan LSL.
Hal ini juga berdampak buruk terhadap program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia karena yang merasa bukan LSL tidak takut lagi melakukan hubungan seksual berisiko dengan perempuan.
Dalam berita disebut: Sebelumnya, Dinkes Tebingtinggi juga telah mengklarifikasi bahwa jumlah 698 kasus HIV/AIDS yang ramai diperbincangkan merupakan angka akumulasi sejak 2013 hingga April 2026, bukan jumlah kasus dalam satu tahun.
Yang perlu diperhatika adalah angka jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS (698) tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es.
Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan atau terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut (Lihat gambar).
Gambar: Fenomena Gunung Es pada epidemi HV/AIDS. (Foto: Dok Pribadi/AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap)
Itu artinya ada warga Kota Tebingtinggi yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Mereka ini jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat tanpa mereka sadari terutama melalui hubungan seksual penetrasi tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi tidak menyadari mereka mengidap HIV/AIDS karena tidak ada tanda-tanda, ciri-ciri atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan sebelum masa AIDS. Secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV/AIDS jika tidak menjalani pengobatan dengan obat antiretroviral (ART).
Maka, program yang sangat diperlukan di Kota Tebingtinggi adalah merancang program yang tidak melawan hukum dan tidak melanggar hak asasi manusia (HAM) untuk menemukan warga pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi.
Terkait dengan kewajiban ibu hamil (Bumil) tes HIV juga menyesatkan karena suami mereka tidak menjalani tes HIV sehingga suami yang HIV-positif jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS.
Jika warga Kota Tebingtinggi pengidap HIV/AIDS tidak bisa ditemukan, maka penyebaran HIV/AIDS di Kota Tebingtinggi bak ‘silent disaster’ (bencana terselubung) ibarat ‘bom waktu’ yang kelak bermuara jadi ‘ledakan AIDS’ di Kota Tebingtinggi. [*]
* Syaiful W Harahap adalah penulis buku: (1) PERS meliput AIDS, Pustaka Sinar Harapan dan The Ford Foundation, Jakarta, 2000 (ISBN 979-416-627-8); (2) Kapan Anda Harus Tes HIV?, LSM InfoKespro, Jakarta, 2002 (ISBN 979-96905-0-1); (3) AIDS dan Kita, Mengasah Nurani, Menumbuhkan Empati, tim editor, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2014 (ISBN 978-602-231-192-8); (4) Menggugat Peran Media dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, YPTD, Jakarta, 2022 (ISBN 978-623-5631-25-7); (5) 70 Tahun Syaiful W. Harahap Sepanjang Karir Menggeluti Berita HIV/AIDS (IWP MEDIA PUBLISHING, Jakarta, 2025 – QRCBN 62-6099-2529-730). (Kontak via e-mail: infokespro@yahoo.com).
RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .
RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran.
Update Ddata terbaru, . . .