Warga Islandia Kembali Tolak Rencana Bergabung dengan Uni Eropa Warga Islandia tolak rencana perundingan agar bergabung dengan Uni Eropa
Oleh : Syaiful W Harahap | 02 Sep 2026, 04:22:49 WIB | 👁 35 Lihat Internasional
Keterangan Gambar : Meski bukan anggota Uni Eropa, Islandia punya hubungan erat dengan blok tersebut melalui Wilayah Ekonomi Eropa dan zona Schengen yang memungkinkan warganya bebas bepergian di zona UE. (Foto: dw.com/id - Leonhard Foeger/REUTERS)
RADARMEDAN.com – Referendum Nasional di Islandia gagal menggalang dukungan untuk kembali membahas keanggotaan Uni Eropa, meski di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi di Atlantik Utara. Matt Ford*, Nik Martin** dan Zac Crellin melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 31 Agustus 2026).
Warga Islandia menolak rencana pembukaan kembali perundingan agar negaranya bergabung dengan Uni Eropa.
Hasil akhir referendum yang diumumkan pada Minggu (30/08) menunjukkan kubu warga yang memilih "Tidak" meraih 52,8% suara, sementara kubu warga yang memilih "Ya" mendapat 47,2%, menurut penghitungan resmi yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik RUV.
Ibu kota Reykjavik menjadi satu-satunya wilayah di negara berpenduduk sekitar 400.000 jiwa itu, yang mendukung referendum.
Dari sekitar 270.000 warga yang berhak memilih, sebanyak 82% menggunakan hak suaranya.
Perdana Menteri Islandia Kristrun Frostadottir, yang mendukung kubu "Ya", mengatakan hasil tersebut bukan kekalahan, melainkan wujud demokrasi.
"Saya tidak melihat ini sebagai kemunduran. Saya melihatnya sebagai kemenangan bagi demokrasi," katanya. Ia menambahkan, lebih dari 80% warga ikut menentukan keputusan tersebut. Meski begitu, Islandia akan terus memperkuat hubungannya dengan Kawasan Ekonomi Eropa.
"Saya tidak melihat adanya kekecewaan yang mendalam," katanya. "Memang ada sebagian orang yang tidak menerima hasil referendum, tetapi setelah berbicara dengan banyak pihak dari berbagai daerah, saya melihat mereka cukup terbuka menerima apa pun hasilnya," pungkasnya.
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa António Costa mengatakan Uni Eropa menghormati keputusan demokratis warga Islandia untuk tidak melanjutkan kembali perundingan, "Islandia tetap menjadi salah satu mitra terdekat dan paling dipercaya Uni Eropa," ujar seorang juru bicara.
Pemungutan suara pada Sabtu (29/08) digelar di tengah berulangnya ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland yang berada di dekat Islandia.
Meski Islandia merupakan anggota NATO, para pendukung keanggotaan Uni Eropa menilai solidaritas Eropa akan memberikan perlindungan lebih kuat jika suatu saat Trump melontarkan ancaman serupa.
PM Islandia, Kristrun Frostadottir, pastikan tak akan membahas soal perundingan kembali keanggotaan UE di masa pemerintahannya. (Foto: dw.com/id - Marco Di Marco/AP Photo/picture alliance)
Kubu penolak menang tipis
Penghitungan suara berlangsung ketat sepanjang malam. Kubu "Ya" sempat unggul, terutama berkat suara dari ibu kota Reykjavik, sebelum keunggulan berbalik ke kubu "Tidak".
Saat fajar, selisih suara kedua kubu hanya beberapa ratus suara. Namun, jarak tersebut melebar setelah suara dari wilayah pedesaan mulai dihitung, tempat kubu oposisi dan warga yang menolak terhadap keanggotaan Uni Eropa lebih kuat.
"Ini bukan waktunya untuk bergabung," kata salah satu pemilih kubu "Tidak", Daniel Bjarkason, kepada Associated Press.
"Mungkin 10, 15, 20 tahun lagi atau lebih, kita bisa mempertimbangkannya kembali. Tapi untuk sekarang, masyarakat masih terlalu terpecah. Kalau memang ingin bergabung dengan Uni Eropa, seharusnya dukungannya bisa mencapai 70-30 untuk kubu 'Ya'," tambahnya.
Perdebatan panjang soal keanggotaan UE
Islandia telah memperdebatkan kemungkinan bergabung dengan Uni Eropa selama hampir dua dekade.
Pemerintahan Islandia saat ini yang berhaluan kiri, awalnya berencana menggelar referendum tahun depan (2027). Namun, pemungutan suara dipercepat karena meningkatnya ketegangan geopolitik terkait perang Rusia di Ukraina dan isu Greenland.
Negara Nordik itu pertama kali mengajukan permohonan bergabung pada 2009, setelah krisis keuangan global menghantam Islandia cukup parah. Perundingan kemudian dihentikan pada 2013 setelah pemerintahan yang skeptis terhadap Uni Eropa berkuasa.
Hasil referendum ini diperkirakan mengecewakan banyak pihak di dalam Uni Eropa. Sebagai negara kaya, stabil, dan demokratis dengan sektor perikanan yang kuat, Islandia sebenarnya dinilai bisa bergabung dalam waktu relatif singkat. Kroasia menjadi negara terakhir yang masuk pada 2013.
Berbeda dengan Islandia, sebagian besar negara kandidat lain masih harus menjalani reformasi panjang untuk menyesuaikan diri dengan aturan Uni Eropa.
Masuknya Islandia, bersama Montenegro dan mungkin Moldova, dalam dua tahun ke depan dinilai bisa membantu memulihkan citra Uni Eropa setelah Inggris keluar pada 2020.
Industri perikanan jadi pertimbangan
Hasil referendum sekaligus meredakan kekhawatiran sebagian pemilih bahwa bergabung dengan Uni Eropa dapat mengurangi kedaulatan Islandia. Hak penangkapan ikan menjadi salah satu isu utama.
Industri perikanan selama ini menjadi salah satu yang menentang soal keanggotaan Islandia di Uni Eropa. Sekitar 90% pelaku industri disebut menolak rencana tersebut.
Uni Eropa sebelumnya dinilai bersedia mencari kompromi terkait sejumlah isu sensitif, termasuk perikanan dan pertanian, untuk memuluskan rencana Islandia bergabung dengan Uni Eropa.
Perikanan telah menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas warga Islandia selama berabad-abad. Sejak merdeka dari Denmark pada 1944, Islandia dikenal berani mempertahankan kedaulatannya.
Pada 1970-an, Islandia bahkan memenangkan sengketa hak atas wilayah perairan dan perikanan yang dikenal dengan "Perang Cod" melawan Inggris. (Sumber: Reuters, AFP, AP)/(Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz/Editor: Adelia Dinda Sani)/dw.com/id. [*]
*Matt Ford Reporter dan editor DW Sports, spesial meliput sepak bola Eropa, budaya fans, dan politik olahraga. @matt_4d
**Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.
RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik.
Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .
RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .