Gangguan Obsesif Kompulsif Ketika Pikiran Begitu Mengancam
Pikiran dan tindakan kompulsif jadi beban mengisolasi penderitanya

Oleh : Syaiful W Harahap | 28 Okt 2026, 06:40:58 WIB | 👁 76 Lihat
Kesehatan
Gangguan Obsesif Kompulsif Ketika Pikiran Begitu Mengancam

Keterangan Gambar : Menurut Asosiasi Gangguan Obsesif Kompulsif Jerman, Perempuan lebih sering mengalami gangguan ini terutama yang terkait dengan kebersihan melebihi laki-laki. (Foto: dw.com/id - Microgen/Depositphotos/IMAGO)


RADARMEDAN.COM – Tadi sudah matikan kompor belum? Apakah tanganku sudah kucuci bersih? Apa aku menyakiti anakku? Pikiran dan tindakan kompulsif jadi beban mengisolasi penderitanya. Salah satu bentuk terapi dapat membantu. Julia Vergin* melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 28 September 2026).

Bagi Alex, gangguan itu dirasakannya di usia 13 tahun. Ia harus selalu mengenakan tujuh barang di tubuhnya, tidak bisa tidak. Di ponselnya, ia menyimpan tepat 400 kontak. Alex, yang nama lengkapnya tidak dapat kami sebutkan, menyebut dirinya sebagai "Kontrolletti” dalam bahasa Jerman atau lebih dikenal sebagai pengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder atau Gangguan Obsesif-Kompulsif).

Hal ini tidak sebatas kebiasaan menghitung barang atau kontak di ponsel. Pada suatu hari, Alex menjadi takut menyentuh gagang pintu. Setelah itu, situasi kian memburuk, ia jadi takut berbelanja, berkunjung ke rumah orang lain, menghindari seks - semuanya kian sulit diatasi.

Setelah menggunaakan toilet umum, perempuan berusia 36 tahun itu harus mandi dan terus menerus mencuci tangannya. Dia tidak lagi mencuci peralatan makan yang sudah digunakan, melainkan langsung membuangnya. Kompulsi mengontrol kehidupannya.

Alex merasa begitu malu, "Kamu melihat dirimu menjadi gila,” katanya.

Ketika pikiran mengancam, kompulsi muncul

Alex adalah salah satu dari dua juta orang Jerman yang, menurut Asosiasi Gangguan Obsesif-Kompulsif Jerman menderita gangguan obsesif-kompulsif. Menurut perkiraan ilmiah, sekitar dua hingga tiga persen populasi dunia terpengaruh.

Psikolog Inggris Paul Salkovkis menjelaskan gangguan ini dengan model kognitif. Hal ini dimulai dengan pikiran yang terus-menerus muncul, seperti yang mungkin kita semua pernah alami, "Aku belum mematikan kompor.” Setelah berpikir sejenak, "Ah, sudah mati, lagipula aku memang tidak menggunakannya.” Pikiran itu pun sirna.

Tidak demikian halnya pada orang dengan gangguan obsesif-kompulsif. Pikiran itu tetap ada di kepala dan dianggap mengancam, "Jika saya belum mematikan kompor, seluruh rumah bisa terbakar dan orang-orang bisa tewas.” Akibatnya, muncul rasa takut akan membahayakan orang lain dan rasa tegang yang begitu besar. Tindakan kompulsif dengan memeriksa kompor berulang kali adalah upaya bagi para penderita untuk menetralkan perasaan tidak menyenangkan tersebut, kata Dr. Katharina Bey, Psikoterapis dan Kepala Klinik Rabat Jalan Khusus Gangguan Obsesif-Kompulsif RS Universitas Bonn.

"Rasa takut memang berkurang untuk sementara, tetapi penilaian terhadap pikiran tersebut sebagai sesuatu yang penting atau mengancam justru semakin kuat,” kata Bey kepada DW. Ini merupakan mekanisme yang dapat memperkuat gangguan tersebut.

Menurut Katharina Bey, ancaman yang sangat serius bagi para penderita gangguan ini adalah pikiran obsesif-kompulsif yang agresif atau seksual. Misalnya seperti melukai seseorang dengan pisau, mendorong anak sendiri dari tangga, atau takut karena merasa menjadi seorang pedofil.

"Meskipun hal itu bertentangan keras dengan keinginan para penderitanya dan jauh dari karakter dan kepribadian mereka,” kata Bey. Justru karena pikiran-pikiran yang begitu tidak masuk akal, maka terasa sangat mengancam, jelas psikoterapis itu lebih lanjut.

Dari mana asal-usul gangguan obsesif-kompulsif?

Sebuah studi yang baru diterbitkan jurnal ilmiah Nature Neuroscience memberi pentunjuk baru akan asal-usul gangguan obsesif-kompulsif. Dalam penelitian tersebut, teridentifikasi 36 varian gen yang memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan ini.

Hasil studi ini dapat membantu orang-orang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif untuk mengurangi rasa malu, kata Bey, "Ada dasar biologis dari gangguan yang saya alami.” Namun, genetika bukanlah segalanya. "Sekitar 50 persen dipengaruhi oleh gen, 50 persen oleh faktor lingkungan,” jelas Bey.

Jika ditinjau ulang, lewat pengamatan ada korelasi antara komplikasi persalinan dan gangguan obsesif-kompulsif, kata Bey, namun ia juga mengingatkan agar berhati-hati dalam menafsirkan data semacam itu.

"Pengalaman kehilangan kendali dapat berperan,” kata Bey. Misalnya, kematian orang yang dicintai atau perceraian orang tua yang tidak dijelaskan dengan baik kepada anak. Perilaku kompulsif dianggap sebagai cara untuk mendapatkan kembali rasa kendali atau cara membatasi diri dari orang lain.

Antidepresan dan terapi kognitif

Jessica Teitz juga menderita gangguan obsesif-kompulsif. Ia mengatakan, ia sama sekali tidak peduli dari mana asal obsesi tersebut. Sebab, itu tidak membantunya mengatasi penyakit tersebut. Bagi sosok yang kerap dipanggil Jess ini, obat antidepresan dan terapi perilaku kognitiflah yang membantunya. Eksposur dengan pengelolaan reaksi punya peran penting. Bentuk terapi ini menempatkan pasien secara sengaja pada situasi yang tidak menyenangkan bagi mereka. Hal ini dianggap sangat efektif untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif.

Gangguan obsesif-kompulsif yang dialami Jess juga bermula sejak masa kanak-kanak. Selama bertahun-tahun, kondisinya tidak terdeteksi dan tidak diobati, seperti halnya pada banyak penderita lainnya. Kondisinya menjadi begitu parah hingga Jess, sebagai seorang remaja putri, tidak lagi mampu berinteraksi dengan orang lain.

Baru setelah dibantu dengan penghambat reuptake serotonin selektif (SSRI), sejenis obat antidepresan, Jess pelan-pelan dapat meninggalkan rumah dan memulai terapi.

Dalam terapi perilaku kognitif, Jess harus menghadapi secara langsung pikiran dan situasi yang memicu perilaku kompulsif. Rasa takut dan ketegangan yang muncul harus diterima dan ditahan, bukan ditekan lewat perilaku kompulsif, jelas Bey.

Melalui cara tersebut pasien akan menyadari bahwa mereka mampu mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak akan terjadi hal buruk apa pun jika mereka tidak menuruti dorongan kompulsif mereka.

"Secara paradoks, pikiran dan perasaan tersebut akan berkurang ketika diberi ruang,” kata Bey. Hanya dengan cara inilah para penderita dapat menyadari bahwa sebuah pikiran atau perasaan belum tentu harus berujung pada tindakan yang sesuai.

Kembali ke kehidupan nyata

Alex dan Jess telah kembali ke kehidupan mereka sehari-hari berkat terapi. Kompulsi memang belum sepenuhnya hilang, tetapi mereka telah belajar mengatasinya. Ketika dorongan kompulsif muncul, mereka membiarkan pikiran itu ada dan mengingat apa yang penting bagi mereka. "Aku ingin hidup, aku ingin ini, dan kemudian semuanya kembali normal,” kata Alex.

Terapai ini telah menjadikannya orang yang sangat bersyukur, yang kini dapat merasa bahagia atas hal-hal kecil, setelah hidupnya selama bertahun-tahun terasa begitu terkungkung.

Jess telah menyelesaikan pelatihan sebagai instruktur yoga dan kini menawarkan kelas yoga bagi orang-orang yang mengalami pikiran kompulsif dan kegelisahan batin. Kedua perempuan ini aktif terlibat dalam Asosiasi Gangguan Obsesif-Kompulsif Jerman.

Mereka menyarankan orang-orang yang menderita pikiran atau tindakan kompulsif untuk mencari bantuan sesegera mungkin.

"Semakin lama kamu mengalaminya, semakin sulit untuk pulih dan semakin lama pula terapi yang dibutuhkan,” kata Jess. "Bantuan tersedia. Carilah bantuan itu.” (Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman/Diadaptasi oleh Sorta Caroline/Editor: Yuniman Farid)/dw.com/id. [*]

*Julia Vergin Editor senior dan pemimpin tim Science online.


TAGS :


Komentar Facebook

Tuliskan Komentar dengan account Facebook

Kembali Ke halaman Utama

Berita Lainnya:

Deli_Serdang.jpg

Bantah Antikritik Soal Akun Anonim, Pemkab Deli Serdang Buka Suara Terkait Anggaran Rp38,5 Miliar

🔖 DAERAH 👤Radar Medan 🕔11:27:41, 22 Okt 2026

RADARMEDAN.COM, DELISERDANG – Polemik antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang dengan akun media sosial "Badan Perwakilan Netizen 2" makin menghangat. Di tengah krisis gagalnya pengesahan P-APBD 2026, langkah Pemkab yang melaporkan akun anonim tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat memicu reaksi . . .

Berita Selengkapnya ▸
Tersangka_Karo1.jpg

Kasus Pembunuhan Dosen ITB Kabanjahe: Polisi Tangkap 2 Pelaku, Tim Masih Buru Pelaku Lainnya

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔16:35:35, 28 Sep 2026

RADARMEDAN.COM, KARO – Kepolisian Resor (Polres) Tanah Karo bergerak cepat mengungkap kasus dugaan pencurian dengan kekerasan yang menewaskan seorang dosen Institut Teknologi Bisnis (ITB) Kabanjahe, Asprina br Surbakti (38). Petugas berhasil mengamankan dua orang tersangka yang diduga terlibat langsung dalam peristiwa berdarah . . .

Berita Selengkapnya ▸
IMG_20260827_113028_compress46.jpg

Klaim Profesor hingga Dokter Spesialis di TikTok Disorot, Rekam Jejak Akademik Dipertanyakan

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔17:40:04, 26 Agu 2026

RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik. Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .

Berita Selengkapnya ▸
dilaporkan1.jpg

Buntut Eksekusi Paksa Chapel, Pdt. Gloria Resmi Polisikan Rektor USU ke Polda Sumut, Ini Jawaban USU

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔08:32:11, 12 Agu 2026

RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .

Berita Selengkapnya ▸
pemain_Brasil_dan_Maroko.jpg

Brasil Dipaksa Maroko Bermain Imbang Sampai Turun Minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026

🔖 OLAHRAGA 👤Syaiful W Harahap 🕔06:09:28, 14 Jun 2026

RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS). Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .

Berita Selengkapnya ▸
5JT.jpg

Polda Sumut Bongkar Live TikTok Bermuatan Pornografi, Host Raup Rp5 Juta per Hari

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔21:06:51, 11 Jun 2026

RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok. Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .

Berita Selengkapnya ▸
Tim_Hukum_MUKI.jpg

USU Dinilai Kebablasan, Tim Hukum MUKI Sumut Desak Menag Turun Tangan Urus Polemik Gereja POUK

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔17:05:29, 26 Mei 2026

RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .

Berita Selengkapnya ▸
eselon.jpg

Lantik Eselon II, III dan IV, Rico Waas Beri Deadline 6 Bulan bagi Pejabat Baru Untuk Tunjukkan Peru

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:53:21, 16 Apr 2026

RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .

Berita Selengkapnya ▸
provokasi.jpg

Waspada Penunggang Gelap di Balik Isu Babi: Jangan Kasih Celah Mafia Narkoba Obok-obok Medan!

🔖 OPINI 👤Radar Medan 🕔11:55:43, 01 Mar 2026

RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .

Berita Selengkapnya ▸
demo11.jpg

Ribuan Massa Kepung Balai Kota Medan, Wali Kota Rico Waas Akhirnya Tarik SE Dagang Babi

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔20:01:13, 26 Feb 2026

RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026). Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .

Berita Selengkapnya ▸

Berita Utama

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami.

Jejak Pendapat

Bagaimana pandangan anda atas Pilkada 2024?
  Tidak Ada Pilihan
  Tidak Puas
  Puas