Kaitkan LSL dengan HIV/AIDS Menggagalkan Program Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia Beberapa dinas kesehatan dan aktivis AIDS serta media siber di Indonesia abaikan CDC terkait LSL
Oleh : Syaiful W Harahap | 27 Jul 2026, 10:47:20 WIB | 👁 63 Lihat Kesehatan
Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber: lac.org)
Oleh: Syaiful W. Harahap*
RADARMEDAN.com – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC-Centers for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat (AS) sudah lama mengingatkan bahwa frasa LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki) yang merupakan padanan dari MSM (Men Who Have Sex with Men) sama sekali tidak terkait langsung dengan orientasi seksual.
Ini pernyataan lengkap CDC: LSL merupakan kelompok yang beragam dalam hal perilaku, identitas, dan kebutuhan perawatan kesehatan. Istilah “LSL” sering digunakan secara klinis untuk merujuk pada perilaku seksual semata, tanpa memandang orientasi seksual (misalnya, seseorang mungkin mengidentifikasi dirinya sebagai heteroseksual tetapi masih diklasifikasikan sebagai LSL).
Maka, laki-laki pengidap HIV/AIDS yang disebut-sebut sebagai LSL di Indonesia tidak otomatis sebagai gay dengan orientasi seksual sebagai homoseksual (secara seksual tertarik kepada sesama jenis) karena ternyata ada di antara mereka yang mengaku-ngaku sebagai LSL mempunyai istri dan anak.
Sejatinya secara seksual gay tidak tertarik kepada perempuan, maka yang disebut-sebut sebagai LSL di Indonesia adalah laki-laki heteroseksual atau laki-laki mempunyai istri dan anak dengan perilaku seksual sebagai LSL. Dalam hal ini laki-laki gay yaitu melakukan hubungan seksual penetrasi dengan seks anal.
Tapi, beberapa dinas kesehatan, aktivis dan media siber justru langsung mengaitkan laki-laki yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS sebagai LSL.
Lagi pula pengaitan LSL dengan kasus HIV/AIDS justru jadi kontra produktif terahadap penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia, yaitu: laki-laki dewasa merasa bukan LSL mengabaikan perilaku seksual berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.
Dengan mengait-ngaitkan kasus HIV/AIDS dengan LSL justru mengabaikan kasus penularan HIV/AIDS pada kalangan laki-laki heteroseksual.
Data di Laporan Eksekutif Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan I Tahun 2025 (HIV AIDS PIMS Indonesia) menunjukkan:
Persentase kasus AIDS berdasarkan faktor risiko penularan dari tahun 1987 – Maret 2025, yaitu:
Heteroseksual: 61,4
Homoseksual: 12,9
Studi Kemenkes mencatat hingga akhir tahun 2012 ada 6,7 juta pria Indonesia yang jadi pelanggan PSK, sehingga pria jadi kelompok yang paling berisiko tinggi untuk menyebarkan HIV/AIDS (bali.antaranews.com, 9/4/2013). Yang bikin miris 4,9 juta di antara 6,7 juta pria itu mempunyai istri. Itu artinya ada 4,9 juta istri yang berisiko tertular HIV/AIDS dari suaminya.
Data PIMS menunjukkan secara nasional dari tahun 2019 – 2024:
Ibu hamil (Bumil) terdeteksi HIV-positif: 26.642
Ibu hamil (Bumil) terdeteksi positif sifilis: 28.149
Kalau saja dinas-dinas kesehatan dan penjangkau lebih arif dan bijaksana tentulah fakta tentang laki-laki yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS yang disebut LSL tidak menggelapkan data yaitu LSL yang punya istri dan anak tentulah ada gambaran yang riil terkait dengan kasus HIV/AIDS dan sifilis pada Bumil.
Ada paradoks terkait dengan HIV/AIDS di Indonesia. Di periode tahun 198-an sampai 1990-an orang-orang, tertuma laki-laki, yang terdeteksi HIV/AIDS mengaku-ngaku sebagai penyalahguna Narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran. Selanjutnya sejak awal tahun 2000-an pengakuan bergeser sebagai LSL.
Agaknya, mereka itu tidak rela dikaitkan dengan zina karena sejak awal epidemi HIV/AIDS di Indonesia, diakui oleh pemerintah sejak tahun 1987 sementara secara globat sudah terjadi sejak tahun 1981), informasi tentang penularan HIV/AIDS, termasuk oleh pemerintah, selalu dikait-kaitkan dengan zina.
Padahal, secara empiris dengan pijakan fakta medis risiko penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual, dalam hal ini zina, tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual penetrasi (vaginal atau anal), di dalam dan di luar nikah, yaitu salah satu atau kedua pasangan tersebut mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.
Apakah dinas-dinas kesehatan dan penjangkau bisa membuktikan bahwa laki-laki yang mereka sebut sebagai LSL itu tidak pernah melakukan perilaku seksual berisiko tinggi terular HIV/AIDS dengan perempuan?
Sudah saatnya menyampaikan fakta bukan dengan mendorong media siber membuat judul yang sensasional yang bombastis. Dalam KBBI bombastis adalah omong kosong).
Simak beberapa judul berita di media siber yang bersumber dari dinas kesehatan dan institusi AIDS edisi Juni dan Juli 2026:
Dinkes Riau Catat 1.170 Kasus Positif HIV Selama 2025, Dominasi Kelompok LSL (mediacenter.riau.go.id, 23 Jul 2026)
Diskes Riau Temukan 1.170 Kasus HIV Sepanjang 2025, Kelompok LSL Tertinggi (halloriau.com, 23 Juli 2026)
Lelaki Seks Lelaki Dominasi Kasus HIV Baru di Kota Malang (detik.com, 8 Jul 2026)
Dinkes Sidoarjo: Kelompok LSL Miliki Risiko Tertinggi Penularan HIV/AIDS (radarsidoarjo.jawapos.com, 10 Jun 2026)
Jadi Perhatian Serius, Ada Temuan 188 Kasus HIV dari Kelompok LSL di Klaten (solopos.espos.id, 2 Juni 2026)
, 2 Juni 2026)ayotegal.comKasus HIV/AIDS di Kabupaten Tegal Tembus 1.062 Orang, Mayoritas dari Kelompok LSL (
Kasus HIV/AIDS di Cianjur Meningkat, Kelompok LSL Paling Dominan (cianjurekspres.disway.id, 8 April 2026)
Kasus HIV/AIDS Kota Semarang Tertinggi di Jateng, LSL jadi Kelompok Risiko Utama (mediaindonesia.com, 3 Juni 2026)
Kota Semarang Catat 240 Temuan HIV/AIDS dalam 5 Bulan, Kelompok LSL Dominasi Hasil Skrining (indoraya.news, 2 Jun 2026)
Tren Penularan HIV di Jateng Kini Bergeser ke Kelompok LSL (joglojateng.com, 29 Juni 2026)
Pergeseran Pola Penularan ke LSL (radioidola.com, 30 Juni 2026)
Ada beberapa hal yang tidak akurat pada judul-judul berita di atas, antara lain:
Pertama, terjadi penggelapan fakta yaitu bahwa ada di antara yang disebut LSL itu mempunyai istri dan anak tapi tidak disebutkan dalam berita.
Kedua, pemakaian frasa ‘dominasi’ yang salah kaprah. Dalam KBBI (kbbi.web.id) disebutkan dominasi adalah penguasaan oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah (dalam bidang politik, militer, ekonomi, perdagangan, olahraga, dan sebagainya). Maka, bagaimana cara laki-laki yang disebut-sebut LSL tersebut menguasai penularan HIV/AIDS?
Ketiga, risiko terular HIV/AIDS melalui hubungan seksual penetrasi, di dalam atau di luar nikah, bukan karena kelompok atau golongan karena risiko tertular HIV/AIDS tergantung pada perilaku seksual orang per orang. Seorang pekerja seks sekalipun bisa mempunyai risiko rendah asalkan hanya melayani laki-laki yang memakai kondom. Celakanya, ketika hubungan seksual dengan ‘suami’ atau pacar (dikenal sebagai kiwir-kiwir) tidak pakai kondom. Padahal, tidak ada jaminan kiwir-kiwir mereka itu tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan lain.
Keempat, penyebuatan penularan HIV/AIDS disebut bergeser ke LSL tidak akurat karena:
tidak ada perbandingan dengan kasus pada heterosekual
yang disebut LSL tidak bisa dijamin mereka tertular lewat seks anal dengan laki-laki karena bisa saja mereka juga seks berisiko dengan perempuan
Untuk itulah, sejatinya dinas-dinas kesehatan, penjangkau, aktivis dan media siber berlaku objektif agar tidak terjadi misleading (menyesatkan) dengan menyebut: laki-laki yang terdeteksi HIV/AIDS yang mengaku LSL mempunya istri dan anak.
Kalau pemerintah, dalam hal ini dinas-dinas kesehatan, hanya ‘menembak’ LSL niscaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia mundur yang pada gilirannya memicu ‘ledakan AIDS’ yang bisa saja, amit-amit, jadi ‘afrika kedua.’ [*]
* Syaiful W Harahap adalah penulis buku: (1) PERS meliput AIDS, Pustaka Sinar Harapan dan The Ford Foundation, Jakarta, 2000 (ISBN 979-416-627-8); (2) Kapan Anda Harus Tes HIV?, LSM InfoKespro, Jakarta, 2002 (ISBN 979-96905-0-1); (3) AIDS dan Kita, Mengasah Nurani, Menumbuhkan Empati, tim editor, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2014 (ISBN 978-602-231-192-8); (4) Menggugat Peran Media dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, YPTD, Jakarta, 2022 (ISBN 978-623-5631-25-7); (5) 70 Tahun Syaiful W. Harahap Sepanjang Karir Menggeluti Berita HIV/AIDS (IWP MEDIA PUBLISHING, Jakarta, 2025 – QRCBN 62-6099-2529-730). (Kontak via e-mail: infokespro@yahoo.com).
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .
RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran.
Update Ddata terbaru, . . .
Tulisan Kiriman Hanina Afifah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU
RADARMEDAN.COM - Bagi sebagian orang, bahkan mungkin Anda salah satunya, olahan herbal sering terdengar meragukan dalam mendukung pemulihan kesehatan. Namun, Michael Aditya (32) membuktikan lewat kisahnya. Tak pernah sebelumnya terlintas di benak pria asal Surabaya ini, . . .