Ketika Cinta Berubah Jadi Kekerasan: Membaca Tragedi di Kampus UIN Suska
Oleh : Radar Medan | 11 Mar 2026, 14:06:22 WIB | 👁 196 Lihat Opini
Keterangan Gambar : Gadis Anastasia (Antropolog UNIMED) (Ist)
RADARMEDAN.COM - Tragedi pembacokan yang terjadi di lingkungan kampus UIN Suska Riau mengejutkan banyak orang. Bukan hanya karena kekerasan itu terjadi di ruang akademik yang seharusnya aman, tetapi juga karena ia memperlihatkan wajah lain dari kehidupan mahasiswa, yakni rapuh, emosional, dan rentan terhadap konflik yang tidak terkelola. Kampus yang selama ini dipersepsikan sebagai ruang intelektual ternyata tidak sepenuhnya kebal dari ledakan emosi yang berujung pada kekerasan.
Namun, kejadian semacam ini sering kali dipahami secara dangkal. Penjelasan yang muncul biasanya berkisar pada emosi sesaat, kecemburuan, atau gangguan psikologis individu. Narasi seperti ini terasa sederhana dan mudah diterima publik. Sayangnya, kesederhanaan itu justru menutup persoalan yang lebih dalam. Kekerasan dalam relasi romantis bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses sosial yang panjang, yang dipengaruhi oleh cara masyarakat memahami cinta, kepemilikan, maskulinitas, dan kuasa dalam hubungan. Jika kekerasan terus diperlakukan sebagai insiden individual, kita akan terus gagal melihat pola yang lebih besar.
Di sinilah pendekatan antropologi menjadi penting. Antropologi tidak melihat kekerasan sebagai sekadar perilaku individu, tetapi sebagai praktik sosial yang dibentuk oleh nilai, norma, dan struktur budaya.
Cinta dan Relasi Kuasa
Filsuf Prancis, Michel Foucault, pernah menjelaskan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk dominasi yang terlihat jelas. Ia bekerja melalui relasi sehari-hari, termasuk dalam hubungan personal. Dalam banyak hubungan romantis, kuasa sering disamarkan dalam bahasa cinta: rasa memiliki, kontrol, kecemburuan, bahkan pengawasan terhadap pasangan.
Masalahnya, masyarakat sering kali menganggap praktik-praktik tersebut sebagai tanda kasih sayang. Cemburu dipuji sebagai bukti cinta. Mengontrol pasangan dianggap sebagai bentuk kepedulian. Dalam situasi seperti ini, batas antara perhatian dan dominasi menjadi kabur.
Ketika relasi cinta dipenuhi dengan logika kepemilikan, konflik kecil dapat berubah menjadi konflik eksistensial. Penolakan tidak lagi dipahami sebagai hak individu, melainkan sebagai ancaman terhadap harga diri. Dalam kondisi seperti ini, kekerasan sering muncul sebagai upaya mempertahankan kuasa yang terasa sedang hilang. Fenomena ini menunjukkan bahwa cinta tidak selalu bebas dari politik kekuasaan. Bahkan dalam hubungan yang paling intim sekalipun, relasi kuasa dapat bekerja secara halus dan tidak disadari.
Habitus Kekerasan yang Tak Disadari
Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, menjelaskan bahwa perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh apa yang ia sebut sebagai habitus, yakni pola disposisi yang terbentuk dari pengalaman sosial yang terus berulang. Habitus membuat individu bertindak secara otomatis sesuai dengan nilai yang ia serap dari lingkungan sosialnya.
Dalam konteks kekerasan relasional, habitus ini dapat terbentuk dari berbagai sumber, seperti keluarga, lingkungan sosial, budaya populer, hingga media. Jika seseorang tumbuh dalam budaya yang menormalisasi dominasi dalam hubungan, maka ia akan lebih mudah menganggap kekerasan sebagai respons yang dapat diterima. Bahkan tanpa disadari, kekerasan dapat dipahami sebagai cara mempertahankan kehormatan atau harga diri.
Lebih jauh lagi, Bourdieu memperkenalkan konsep kekerasan simbolik. Ini adalah bentuk kekerasan yang tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi bekerja melalui bahasa, norma, dan simbol budaya. Dalam relasi romantis, kekerasan simbolik dapat muncul dalam bentuk kontrol emosional, manipulasi, atau tekanan psikologis. Ketika praktik-praktik ini dianggap normal, masyarakat secara tidak sadar sedang memproduksi kondisi yang memungkinkan kekerasan fisik terjadi.
Media dan Produksi Narasi Kekerasan
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika media ikut membingkai peristiwa kekerasan sebagai drama percintaan. Judul-judul sensasional yang menyoroti kecemburuan atau konflik asmara sering kali mengalihkan perhatian publik dari persoalan struktural yang lebih besar. Alih-alih mendorong refleksi kritis, pemberitaan seperti ini justru memperkuat narasi romantisasi kekerasan.
Dalam banyak kasus, media menghadirkan tragedi sebagai kisah dramatis yang mudah dikonsumsi publik. Kekerasan diposisikan sebagai klimaks emosional dalam cerita hubungan. Tanpa disadari, pola ini membuat masyarakat semakin terbiasa melihat kekerasan sebagai bagian dari konflik cinta. Padahal, media memiliki kekuatan besar dalam membentuk kesadaran sosial. Cara media membingkai sebuah peristiwa dapat menentukan bagaimana publik memahaminya.
Jika kekerasan terus disajikan sebagai drama asmara, maka pesan yang sampai ke masyarakat menjadi sangat problematik: seolah-olah kekerasan adalah konsekuensi wajar dari cinta yang gagal.
Kampus dan Krisis Literasi Emosional
Tragedi di kampus juga membuka pertanyaan lain yang jarang dibicarakan: apakah perguruan tinggi benar-benar memberi ruang bagi kesehatan emosional mahasiswa? Selama ini kampus lebih banyak menekankan prestasi akademik, kompetisi intelektual, dan pencapaian profesional. Sementara itu, pendidikan mengenai relasi sehat, pengelolaan emosi, dan kesadaran terhadap batasan personal sering kali tidak mendapat perhatian serius.
Mahasiswa adalah kelompok usia yang sedang berada dalam fase pencarian identitas. Mereka membangun relasi, mengalami konflik, dan belajar memahami diri sendiri. Tanpa dukungan sistem yang memadai, seperti konseling yang mudah diakses atau pendidikan relasi sehat, banyak mahasiswa akhirnya menghadapi masalah emosional sendirian. Ketika konflik tidak memiliki ruang penyelesaian yang sehat, ia dapat berkembang menjadi frustrasi yang berbahaya.
Membongkar Narasi yang Kita Warisi
Kekerasan tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pertemuan berbagai faktor: budaya yang menoleransi dominasi, sistem pendidikan yang kurang memberi ruang bagi kesehatan emosional, serta media yang sering menyederhanakan tragedi menjadi drama. Selama faktor-faktor ini tidak disentuh, kekerasan akan terus menemukan jalannya.
Karena itu, tragedi seperti yang terjadi di UIN Suska seharusnya tidak berhenti sebagai berita sensasional yang segera dilupakan. Ia perlu dibaca sebagai peringatan sosial tentang bagaimana masyarakat membentuk cara generasi muda memahami cinta dan relasi. Jika cinta terus diajarkan sebagai bentuk kepemilikan, maka kekerasan akan selalu menemukan pembenaran.
Jika media terus memproduksi narasi dramatis tentang konflik asmara, publik akan semakin sulit melihat kekerasan sebagai masalah struktural.
Maka, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya mengapa seseorang melakukan kekerasan, tetapi juga budaya seperti apa yang memungkinkan kekerasan itu terjadi. Tanpa keberanian untuk mengubah narasi tersebut, tragedi serupa mungkin hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang.
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .
RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran.
Update Ddata terbaru, . . .
Tulisan Kiriman Hanina Afifah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU
RADARMEDAN.COM - Bagi sebagian orang, bahkan mungkin Anda salah satunya, olahan herbal sering terdengar meragukan dalam mendukung pemulihan kesehatan. Namun, Michael Aditya (32) membuktikan lewat kisahnya. Tak pernah sebelumnya terlintas di benak pria asal Surabaya ini, . . .
RADARMEDAN.COM – Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak dalam temu pers memberi penjelaskan kepada wartawan bahwa kasus pembakaran rumah seorang Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan di Komplek Taman Harapan Indah, Blok D No. 25, dipastikan merupakan aksi pembakaran berencana oleh mantan sopir korban. Hal itu disampaikan dalam . . .
RADARMEDAN.COM - Dalam era informasi yang berkembang sangat cepat dan luas, pejabat negara maupun swasta diingatkan untuk lebih selektif dalam memilih media yang dijadikan sumber informasi. Penting bagi pejabat negara untuk mengenali media dan jurnalis yang kredibel agar informasi yang diterima maupun disebarkan dapat . . .
RADARMEDAN.COM - Persaingan media online di Sumatera Utara kian dinamis. Berdasarkan hasil penelusuran dan pemeringkatan yang dilakukan hari ini (3/11/2025), tercatat 30 media online berkantor di Provinsi Sumatera Utara menjadi yang paling banyak dikunjungi pembaca sepanjang tahun 2025.
Dalam daftar tersebut, Tribun-Medan.com masih menempati . . .
RADARMEDAN.COM, BINJAI – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menemui Sopian Daulai Nadeak, guru SMK Negeri 1 Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, yang dilaporkan orang tua siswa ke polisi. Pertemuan berlangsung di rumah Sopian, di Binjai, Jumat (31/10/2025). Dalam kesempatan itu, Bobby menyampaikan harapannya agar . . .