Pertanian Sekarat di Negeri Agraris

Oleh : Radar Medan | 19 Jun 2026, 09:42:28 WIB | 👁 55 Lihat
Opini
Pertanian Sekarat di Negeri Agraris

Keterangan Gambar : Namira Nur Rabi’a, Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Sains dan Teknologi, Program Studi Agribisnis


RADARMEDAN.COM - Setiap kali pejabat naik podium dan menyebut Indonesia sebagai negeri agraris, ada satu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan dengan serius: Agraris untuk siapa? Untuk petani yang menjual gabah di bawah harga pokok produksi? Untuk buruh tani yang tidak punya lahan sejengkal pun? Atau hanya untuk retorika pidato yang terdengar gagah tetapi tidak mengubah apa pun di lapangan?

Sudah terlalu lama kita membiarkan gelar itu berdiri sendiri, dipajang seperti piala tua di lemari kaca, tanpa pernah benar-benar memeriksa kondisi nyata di baliknya. Gelar itu diulang-ulang di buku pelajaran, di sambutan upacara, di kampanye pemilu, namun tidak pernah benar-benar dibuktikan dengan keberpihakan. Dan ketika kita akhirnya mau melihat lebih dekat, yang kita temukan bukan kemegahan yang dijanjikan melainkan keretakan yang sudah lama dibiarkan melebar tanpa ada yang peduli untuk menambalnya.

Faktanya, di balik klaim keagungan itu, sektor pertanian Indonesia sedang berjalan menuju tebing. Lahan sawah makin sempit, petaninya makin tua, generasi mudanya makin jauh dari ladang, dan negara justru makin dalam mengimpor bahan pangan dari luar negeri.

Ironi ini bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Ia adalah hasil dari puluhan tahun kebijakan yang setengah hati, prioritas pembangunan yang salah arah, dan pengabaian sistematis terhadap nasib jutaan petani di seluruh pelosok negeri.

Selama ini kita lebih suka membangun infrastruktur megah di atas tanah yang dulu ditanami padi, lalu bangga dengan angka pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat sementara di balik angka itu, perut petaninya tetap kosong dan hidupnya tetap terjepit di garis kemiskinan.

Ambil satu contoh paling nyata: alih fungsi lahan. Data Lahan Dasar KSA mencatat luas lahan baku sawah nasional menyusut dari 7,46 juta hektare pada 2019 menjadi 7,38 juta hektare pada 2024. Penurunan terbesar terjadi di Pulau Jawa, justru wilayah yang selama ini memasok pangan untuk ratusan juta orang. Ini bukan angka kecil ini adalah ribuan hektare sawah produktif yang hilang ditelan perumahan, kawasan industri, dan jalan tol atas nama pembangunan dan kepentingan nasional.

Yang lebih menyakitkan, kita sebenarnya punya undang-undang yang dirancang khusus untuk melindungi lahan pertanian, yaitu UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Namun undang-undang itu nyaris mandul karena dilangkahi oleh UU Cipta Kerja yang membuka pintu lebar bagi alih fungsi lahan demi Proyek Strategis Nasional.

Hukum melindungi sawah di satu sisi, hukum lain menggusurnya di sisi lain dan petanilah yang selalu kalah di tengah kontradiksi kebijakan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan ini.

Ketika lahan menyempit, hasilnya pun tak lagi mencukupi kebutuhan dalam negeri. Pada tahun 2024, Indonesia mengimpor 4,046 juta ton beras, 2,8 juta ton kedelai, 4,09 juta ton gula, serta 11,4 juta ton gandum. Negeri yang tanahnya bisa ditanami hampir apa saja dan curah hujannya menjamin kesuburan sepanjang tahun, tetap harus mengeluarkan devisa besar untuk membeli pangan dari luar.

Ini bukan sekadar masalah ekonomi ini adalah soal kedaulatan bangsa yang sesungguhnya. Negara yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri adalah negara yang hidupnya bergantung pada kebijakan pihak lain. Ketika harga pangan global bergejolak atau negara eksportir tiba-tiba membatasi kiriman karena krisis di negaranya sendiri, Indonesia tidak punya pilihan selain menurut dan membayar berapapun harganya.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah siapa yang akan mengurus sawah itu sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. BPS mencatat rata-rata usia petani Indonesia kini menyentuh 55 tahun usia senja bagi pekerjaan fisik seperti membajak, menanam, dan memanen di bawah terik matahari setiap harinya. Sensus Pertanian 2023 menunjukkan hanya 11,5 persen petani yang berusia di bawah 34 tahun, turun dari 12,8 persen satu dekade sebelumnya.

Tren penurunan ini berbahaya dan nyaris tak terdengar gaungnya di ruang-ruang pengambilan kebijakan. Artinya, dalam dua dekade ke depan, jumlah petani aktif akan anjlok drastis tanpa ada pengganti yang memadai untuk mengisi kekosongan itu. Anak-anak muda bukan tidak mau bertani karena malas atau tidak mencintai tanah air. Mereka tidak mau karena sudah menyaksikan buktinya langsung di depan mata: orang tua mereka membungkuk dari pagi hingga sore di sawah bertahun-tahun, dan tetap tidak bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Lalu mengapa harus mengikuti jalan yang sama?

Itulah akar persoalan yang sesungguhnya. Pertanian di Indonesia belum menjadi profesi yang bermartabat dan menjanjikan secara ekonomi. Petani gurem yang menggarap lahan kurang dari 0,5 hektare jumlahnya justru meningkat hingga 2,64 juta orang dalam satu dekade terakhir, bukan menyusut seperti yang diharapkan.

Harga gabah kerap jatuh saat musim panen raya tiba karena tidak ada mekanisme penyangga harga yang kuat dan konsisten dari pemerintah. Pupuk bersubsidi sering langka di tingkat desa, sementara harga pupuk nonsubsidi terus merangkak naik dan melampaui kemampuan petani kecil yang modalnya terbatas. Infrastruktur irigasi di banyak daerah rusak dan bertahun-tahun dibiarkan tanpa perbaikan yang serius. Dan ketika masa panen tiba pun, petani tetap tidak punya daya tawar: tengkulak yang menentukan harga sesuka hati, sementara petani hanya bisa menerima atau membiarkan hasil panennya membusuk di ladang tanpa ada jalan keluar lain yang tersedia.

Pemerintah memang tidak sepenuhnya berdiam diri menghadapi semua ini. Program cetak sawah baru, optimasi lahan rawa, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga penggunaan teknologi drone dan mekanisasi pertanian modern terus digaungkan di berbagai forum dan konferensi nasional. Stok beras nasional pada awal 2025 bahkan disebut mencapai tiga juta ton, angka tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Tetapi perlu dicatat dengan jujur dan tanpa basa-basi: lonjakan produksi itu lebih banyak disumbang oleh faktor musiman yang kebetulan menguntungkan, bukan oleh lompatan produktivitas yang sistemik dan berkelanjutan.

Program tersebut cenderung menyentuh permukaan tanpa berani menyelesaikan akar masalah. Cetak sawah baru tidak berarti banyak jika sawah lama terus dikorbankan demi proyek yang menggiurkan investor. Rehabilitasi irigasi pun tidak akan membawa perubahan jika petaninya makin menua dan tidak ada generasi penerus yang disiapkan. Tanpa keberpihakan yang menyeluruh dan konsisten, semua itu hanyalah tambal sulam yang terlihat sibuk tetapi tidak menyembuhkan luka.

Indonesia tidak bisa terus hidup dari warisan tanah subur nenek moyang sambil membiarkan mereka yang merawat tanah itu makin terpinggirkan dan dilupakan generasi demi generasi.

Pertanian bukan sekadar salah satu sektor ekonomi di antara banyak sektor lainnya ia adalah fondasi ketahanan, identitas, dan kedaulatan bangsa yang paling mendasar. Ketika fondasi itu retak, tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada jalan tol, dan tidak ada angka investasi sebesar apa pun yang bisa menopang beratnya.

Sudah saatnya kebijakan berpihak secara nyata kepada petani: perlindungan lahan yang tidak bisa diterobos oleh proyek mana pun, harga pangan yang adil dan terjamin lewat regulasi yang tegas, akses modal yang terbuka lebar, serta ekosistem pertanian membuat anak muda mau kembali ke desa bukan karena terpaksa, melainkan karena bertani adalah pilihan yang bermartabat dan menjanjikan masa depan yang layak.

Selama itu belum terwujud, gelar negeri agraris hanyalah kebanggaan semu yang kita wariskan kepada generasi yang sawahnya sudah lama kita jual diam-diam, dan kita bahkan tidak merasa bersalah karenanya.

Penulis : Namira Nur Rabi’a, Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Sains dan Teknologi, Program Studi Agribisnis.

Red/HM


TAGS :


Komentar Facebook

Tuliskan Komentar dengan account Facebook

Kembali Ke halaman Utama

Berita Lainnya:

pemain_Brasil_dan_Maroko.jpg

Brasil Dipaksa Maroko Bermain Imbang Sampai Turun Minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026

🔖 OLAHRAGA 👤Syaiful W Harahap 🕔06:09:28, 14 Jun 2026

RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS). Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .

Berita Selengkapnya
5JT.jpg

Polda Sumut Bongkar Live TikTok Bermuatan Pornografi, Host Raup Rp5 Juta per Hari

🔖 HUKUM DAN KRIMINAL 👤Radar Medan 🕔21:06:51, 11 Jun 2026

RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok. Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .

Berita Selengkapnya
Tim_Hukum_MUKI.jpg

USU Dinilai Kebablasan, Tim Hukum MUKI Sumut Desak Menag Turun Tangan Urus Polemik Gereja POUK

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔17:05:29, 26 Mei 2026

RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .

Berita Selengkapnya
eselon.jpg

Lantik Eselon II, III dan IV, Rico Waas Beri Deadline 6 Bulan bagi Pejabat Baru Untuk Tunjukkan Peru

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:53:21, 16 Apr 2026

RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .

Berita Selengkapnya
provokasi.jpg

Waspada Penunggang Gelap di Balik Isu Babi: Jangan Kasih Celah Mafia Narkoba Obok-obok Medan!

🔖 OPINI 👤Radar Medan 🕔11:55:43, 01 Mar 2026

RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .

Berita Selengkapnya
demo11.jpg

Ribuan Massa Kepung Balai Kota Medan, Wali Kota Rico Waas Akhirnya Tarik SE Dagang Babi

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔20:01:13, 26 Feb 2026

RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026). Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .

Berita Selengkapnya
setneg.jpg

Langgar Aturan, Ini Daftar 28 Perusahaan yang Dicabut Izin Usai Ratas Dipimpin Presiden

🔖 NASIONAL 👤Radar Medan 🕔21:39:16, 20 Jan 2026

RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .

Berita Selengkapnya
bws3.jpg

Bantuan untuk Pengendalian Banjir, Rico Waas: Dana Bank Dunia Rp 1,5 Triliun Dikelola Oleh BWS

🔖 BERITA KOTA 👤Radar Medan 🕔18:09:37, 03 Des 2025

RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.  Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .

Berita Selengkapnya
rilis3.jpg

Polda Sumut Rilis Update Lengkap Situasi Bencana 24–29 November 2025: 488 Bencana, 1.076 Korban

🔖 UMUM 👤Radar Medan 🕔14:25:22, 29 Nov 2025

RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran. Update Ddata terbaru, . . .

Berita Selengkapnya
kafekesehatan.jpg

Secercah Harapan Alami bagi Pejuang Kesehatan, Nyaman Pasca Nikmati Rempah Tradisional Karo

🔖 FEATURE 👤Radar Medan 🕔15:59:52, 24 Nov 2025

Tulisan Kiriman Hanina Afifah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU RADARMEDAN.COM - Bagi sebagian orang, bahkan mungkin Anda salah satunya, olahan herbal sering terdengar meragukan dalam mendukung pemulihan kesehatan. Namun, Michael Aditya (32) membuktikan lewat kisahnya. Tak pernah sebelumnya terlintas di benak pria asal Surabaya ini, . . .

Berita Selengkapnya

Berita Utama

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami.

Jejak Pendapat

Bagaimana pandangan anda atas Pilkada 2024?
  Tidak Ada Pilihan
  Tidak Puas
  Puas