Gaya Hidup Tradisional Terus Berkembang pada Era Millenial
Oleh : Radar Medan | 02 Mar 2019, 14:05:38 WIB | 👁 1813 Lihat Gaya Hidup
RADARMEDAN.COM - Gaya hidup tradisional pada era millennial bukanlah sesuatu yang
bertolak belakang. Dua hal tersebut justru menjadi kolaborasi di dalam
kehidupan berbudaya yang berkembang saat ini. ''Era millenial dan gaya
hidup tradisional bukan hal yang bertabrakan. Tapi berkolaborasi. Namun
saya garis bawahi, elemen dari sisi tradisional mana yang mau dilihat.
Tergantung, manakah yang tradisional itu, mana yang millennial itu,''
ujar Peneliti Sosiologi dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas
Dian Nuswantoro (Udinus), Andy Bangkit Setiawan PhD dalam diskusi Peer
To Peer bertema "Life Style Tradisional di Era Millenial: Ok Kah ?", di
Hotel Ciputra, belum lama ini.
Menurut dia, selama ini masyarakat berpandangan tradisional selalu
tentang fisik. Ia mencontohkan, pandangan tentang memakai baju adat,
hingga meminum jamu dianggap kuno. Padahal, tradisional yang harus
dilihat adalah esensi, dan manfaat apa untuk kehidupan. Misalnya,
meminum jamu adalah hal yang biasa diaplikasikan untuk pola hidup sehat.
Charles Ongkowijoyo Hadiningrat atau akrab dikenal Charles Saerang,
pakar jamu yang merupakan generasi ketiga dari pendiri pabrik jamu
Nyonya Meneer meluruskan beberapa hal terkait jamu sebagai minuman
tradisional. ''Orang-orang asing itu cinta produk lokal kita (jamu).
Nama-nama jamu ini tidak bisa hilang dari kehidupan kita orang
Indonesia. Jamu tidak kuno, karena itu minuman kesehatan biasa seperti
lainnya. Namun bagaimana pengemasan dan penyajian jamu itu agar bisa
berkembang mengikuti zaman,'' tandas Charles.
Temulawak Late
Saat ini, pihaknya mengembangkan minuman temulawak latte. Sebuah
inovasi yang mengesankan temulawak bukanlah jamu dalam konteks
tradisional, melainkan minuman kesehatan yang bisa dinikmati
sehari-hari. ''Sekarang orang asing banyak yang tinggal di Indonesia.
Saya menemui peramu jamu hebat, dia orang Perancis. Dia benar benar
meramu jamu dengan gaya Perancis untuk dinikmati sesuai selera orang
Perancis. Nah kita ini harus segera inovasi, karena ini (jamu) produk
budaya milik kita,'' imbuhnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari
menjelaskan pemerintah tidak akan ketinggalan mengunggulkan
konten-konten tradisional dari setiap daerah. Arahnya, bahwa tradisional
adalah daya tarik pariwisata yang menghasilkan nilai ekonomi
masyarakat. ''Konsep tradisionalnya macam-macam, tergantung keunggulan
kearifan lokal yang dipunyai kampung-kampung di Semarang.
Seperti pada program Kampung Tematik yang dicanangkan sejak 2016. Ada
kampung jamu. Dari gaya hidup, sekarang sudah berkembang kafe yang
menyediakan makanan dan minuman berbahan dasar laiknya jenis-jenis
tanaman untuk jamu.(Suaramerdeka)
TAGS :
RADARMEDAN.COM - Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Sonny Irawan, S.I.K., M.H. menegaskan komitmen memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat melalui peluncuran empat program prioritas dalam acara Tatap Muka Bersama Insan Pers di Aula Tribrata Mapolda Sumut, Kamis (29/10/2026). Dalam momen silaturahmi yang sama, jajaran Polda Sumut turut . . .
RADARMEDAN.COM, DELISERDANG – Polemik antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang dengan akun media sosial "Badan Perwakilan Netizen 2" makin menghangat.
Di tengah krisis gagalnya pengesahan P-APBD 2026, langkah Pemkab yang melaporkan akun anonim tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat memicu reaksi . . .
RADARMEDAN.COM, KARO – Kepolisian Resor (Polres) Tanah Karo bergerak cepat mengungkap kasus dugaan pencurian dengan kekerasan yang menewaskan seorang dosen Institut Teknologi Bisnis (ITB) Kabanjahe, Asprina br Surbakti (38). Petugas berhasil mengamankan dua orang tersangka yang diduga terlibat langsung dalam peristiwa berdarah . . .
RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik.
Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .
RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .