Pemprov Sumatera Utara Harus Membalik Paradigma Terkait dengan Sasaran Edukasi HIV/AIDS Wajib tes HIV dan sifilis sejatinya dilakukan pertama kepada suami Bumil
Oleh : Syaiful W Harahap | 18 Jun 2026, 09:40:59 WIB | 👁 110 Lihat Kesehatan
Keterangan Gambar : Matriks: Penyebaran HIV/AIDS Jika Suami Ibu Hamil Tidak Jalani Tes HIV. (Foto: Dok Pribadi/Syaiful W. Harahap)
RADAMEDAN.com - Persoalan itu (Sumatera Utara kini tercatat masuk lima besar provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia-Pen.) mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Cegah HIV/AIDS dan Edukasi untuk Semua” yang digelar di Kota Medan, Jumat (29/5/2026). Ini ada dalam berita “Kasus HIV/AIDS Masih Tinggi, Sumut Kini Masuk Zona Lima Besar Nasional” (medan.inews.id, 29/5/2026).
Frasa ‘Edukasi untuk Semua’ yaitu tentang HIV/AIDS secara faktual di lapangan yang jadi sasaran edukasi hanya pelajar dan perempuan, dalam hal ini ibu-ibu rumah tangga terutama ibu hamil (Bumil).
Padahal, yang membawa HIV/AIDS ke dalam keluarga dengan bukti kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada Bumil dan anak-anak di bawah umur 12 tahun.
Kondisinya kian runyam karena Studi Kemenkes mencatat hingga akhir tahun 2012 ada 6,7 juta pria Indonesia yang jadi pelanggan PSK, sehingga pria jadi kelompok yang paling berisiko tinggi untuk menyebarkan HIV/AIDS (bali.antaranews.com, 9/4/2013). Yang bikin miris 4,9 juta di antara 6,7 juta pria itu mempunyai istri. Itu artinya ada 4,9 juta istri yang berisiko tertular HIV/AIDS dari suaminya.
Sedangkan Organisasi Kesehaan Dunia PBB (WHO) menyebut Indonesia adalah negara keempata di dunia dengan pertambahan kasus HIV baru setelah China, India dan Rusia (aidsmap.com). Prediksi WHO menunjukkan kasus HIV baru di Indonesia per tahun mencapai 73.000. Fakta menunjukkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) kasus HIV baru pada tahun 2025 mencapai 63.297.
Yang perlu diingat angka ini (63.297) tidak menggambar jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es.
Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan atau terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Dalam “Laporan Tahunan dan Triwulan HIVPIMS 2024” yang dipublikasikan oleh HIV AIDS PIMS Indonesia (HIV AIDS PIMS Indonesia - Kemenkes) menunjukkan dari tahun 2019 – 2024:
Ibu hamil (Bumil) terdeteksi HIV-positif: 26.642
Ibu hamil (Bumil) terdeteksi positif sifilis: 28.149
Bayi yang lahir dari Bumil HIV-positif:
Bayi <18 bulan HIV-positif: 511
Bayi yang lahir dari Bumil positif sifilis:
Bayi <18 bulan positif sifilis: 1.859
Data ini menunjukkan suami Bumil yang terdeteksi HIV-positif dan positif sifilis melakukan hubungan seksual berisiko di luar perkawinan mereka karena ada laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu. Bisa juga dalam pernikahan dengan istri kedua dan seterusnya dengan catatan istri kedua dan seterusnya pernah terikat pernikahan dengan laki-laki lain.
Tapi, mengapa hanya perempuan yang jadi sasaran sosalisasi HIV/AIDS dan PIMS?
Bisa jadi karena negeri ini berpijak pada sistem kekerabatan sebagai paternalistik (mengangungkan laki-laki) yang menempatkan perempuan sebagai sub-ordinat laki-laki.
Tapi, paham itu justru membawa bencana bagi generasi bangsa ini karena kian banyak bayi lahir dengan HIV-positif dan positif sifilis.
Memang, bayi-bayi itu tertular HIV/AIDS atau sifilis dari ibunya, terutama saat persalinan, tapi ibu mereka mengidap HIV/AIDS atau sifilis karena tertular dari suami, dalam hal ini ayah bayi-bayi tersebut.
Sistem paternalistik kian kental dalam konteks HIV/AIDS dan sifilis katika Bumil diwajibkan tes HIV dan tes sifilis. Ini tidak adil dan berpotensi sebagai malaadministrasi yaitu perbuatan melawan hukum dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM).
Kalau saja pemerintah berpijak pada fakta medis dalam melihat fenomena epidemi HIV/AIDS dan PIMS, maka yang lebih dahulu menjalani tes HIV an sifilis adalah para suami. Soalnya, mereka yang membawa HIV/AIDS atau sifilis ke dalam keluarga.
Jika hasil tes HIV dan tes sifilis suami negatif, maka istri dikonseling apakah mereka pernah punya suami sebelumnya. Jika hubungan seksual hanya mereka lakukan dengan suami, maka mereka tidak perlu menjalani tes HIV dan tes sifilis.
Celakanya, cara yang diterapkan pemerintah yaitu hanya mewajibkan tes HIV dan tes sifilis terhadap Bumil ternyata suami Bumil yang HIV-positif dan positif sifilis tidak menjalani tes HIV dan tes sifilis.
Maka, secara empiris suami-suami Bumil yang terdeteksi HIV-positif dan positif sifilis yang tidak jalani tes HIV dan tes sifilis jadi mata rantani penyebaran HIV/AIDS dan sifilis secara horizontal di masyarakat. Terutama melalui hububungan seksual penetrasi (vaginal atau anal) tanpa kondom di dalam dan di luar nikah (lihat matriks).
Cara yang diterapkan pemerintah yaitu hanya mewajibkan tes HIV dan tes sifilis terhadap Bumil membuat suami-suami Bumil yang terdeteksi HIV-positif meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di Klinik VCT Seroja, RSUD Dr. Adjidarmo, Rangkasbitung, Banten, misalnya, ketika seorang suami diberitahu bahwa istrinya yang baru melahirkan mengidap HIV/AIDS si suami langsung kabur meninggalkan istrinya di rumah sakit dan anak-ananya di rumah.
Dalam sebuah media gathering bagi wartawan untuk penulisan berita HIV/AIDS yang berempati di Rangkasbitung (28 Desember 2011 dengan instruktur Syaiful W. Harahap) ada ibu rumah tangga yang memberikan testimoni yaitu ditinggalkan suaminya ketika dia terdeteksi HIV-positif di rumah sakit melalui tes HIV sebelum persalinan. Ibu itu terpaksa banting tulang menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Nah, kalau suami yang duluan tes HIV dan tes sifilis tentu mereka tidak bisa kabur. Mereka diminta untuk bertanggungjawab menjaga istri dan anak-anaknya. Tapi, itu tadi, maaf, ada kesan di negeri ini laki-laki sebagai ‘uberales’ (frasa Jerman) yang berarti ‘di atas segalanya’ sehingga perempuan jadi ‘nomor dua’ dan harus menanggung beban biarpun yang disebabkan suami.
Selama sasaran edukasi hanya pelajar dan perempuan, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa, akan terus terjadi.
Laki-laki yang tertular HIV tapi tidak terdeteksi jadi mata rantani penyebaran HIV/AIDS dan sifilis secara horizontal di masyarakat. Terutama melalui hububungan seksual penetrasi (vaginal atau anal) tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Penyebaran HIV/AIDS terjadi tanpa disadari oleh laki-laki pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi karena tidak ada tanda-tanda, ciri-ciri atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan.
Akibatnya, penyebaran HIV/AIDS terjadi bak ‘silent disaster’ (bencana terselubung) sebagai ‘bom waktu’ yang kelak jadi ‘ledakan AIDS’ di Sumatera Utara. [*]
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .
RADARMEDAN.COM - Polda Sumatera Utara merilis perkembangan terbaru penanganan bencana alam di wilayah Sumut sejak 24 hingga 29 November 2025. Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 488 kejadian bencana alam meliputi tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung yang tersebar di 21 wilayah hukum Polres jajaran.
Update Ddata terbaru, . . .
Tulisan Kiriman Hanina Afifah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU
RADARMEDAN.COM - Bagi sebagian orang, bahkan mungkin Anda salah satunya, olahan herbal sering terdengar meragukan dalam mendukung pemulihan kesehatan. Namun, Michael Aditya (32) membuktikan lewat kisahnya. Tak pernah sebelumnya terlintas di benak pria asal Surabaya ini, . . .