164 Negara Dukung Penggunaan Peta Dunia Baru dengan Skala yang Realistis MU PBB telah menyetujui penggunaan peta dunia baru dengan skala yang lebih realistis
Oleh : Syaiful W Harahap | 09 Sep 2026, 10:00:54 WIB | 👁 47 Lihat Internasional
Keterangan Gambar : Atlas Theatrum Orbis Terrarum 1592, atlas modern pertama dunia yang diadaptasi dari Peta Dunia Mercator. (Foto: dw.com/id - Heritage Art/Heritage Images/picture alliance)
RADARMEDAN.com – Telah lama negara Uni Afrika mengeluhkan benua mereka tidak digambarkan secara realistis pada peta. Majelis Umum PBB telah menyetujui peta dunia baru dengan skala yang lebih akurat. Jens Jensen melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 8/9/2026).
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui penggunaan peta dunia baru dengan skala yang lebih realistis. Resolusi yang diajukan oleh Togo, negara anggota PBB dari Afrika Barat yang juga anggota Uni Afrika ini telah didukung oleh 164 negara anggota PBB lainnya.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menentang resolusi tersebut, sedang enam negara lainnya yang abstain.
Meski tidak mengikat, resolusi ini mendorong negara-negara dan organisasi internasional ke depannya untuk lebih banyak menggunakan peta dengan proyeksi Equal Earth, terutama dalam situasi yang tidak memerlukan ketelitian sudut.
Pada peta dunia proyeksi Equal Earth, Afrika tampak lebih besar dan lebih mendekati ukuran sebenarnya dibandingkan pada peta Mercator, buatan Gerhard Mercator, yang selama berabad-abad menjadi standar dunia.
Pada peta Equal Earth ukuran Amerika Serikat tampak lebih kecil, mendekati kondisi geografis sebenarnya.
Peta tidak pernah netral
"Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia," kata Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey saat berdebat di Sidang Umum PBB. Peta tidak pernah netral. Ada risiko bahwa peta "menyampaikan gambaran yang menyimpang akan planet ini dan memperkuat persepsi yang keliru, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi."
Setelah resolusi tersebut disetujui, Dussey menulis di media sosial, "Ini soal keadilan, martabat, kesetaraan, dan cara kita menggambarkan dunia kita." Sudah terlalu lama kartografi tradisional mendistorsi persepsi tentang ukuran sebenarnya Afrika dan wilayah-wilayah lain di dunia. "Memperbaiki peta berarti memperbaiki cara kita memandang dunia," kata Menlu Togo tersebut.
Menlu Togo, Robert Dussey. (Foto: dw.com/id - Yuki Iwamura/AFP)
Seperti kulit jeruk diletakkan di permukaan datar
Sebaliknya, Amerika Serikat menyebut usulan tersebut sebagai proyek "ideologis" yang mengalihkan perhatian dari masalah-masalah internasional yang sebenarnya. Latar belakang perdebatan ini adalah masalah kartografi.
Dalam penggambaran Bumi dua dimensi, permukaan bola ditransformasikan ke dalam bidang datar, seperti kulit jeruk ditempelkan pada permukaan datar. Hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa distorsi karena alasan geometris.
Jadi, tidak ada peta yang akurat dalam segala hal. Pembuat peta harus memutuskan aspek mana yang lebih penting baginya. Peta bisa menggambarkan kontur dan arah kompas dengan akurat yang dulu sangatlah penting dalam navigasi laut. Sebagai gantinya, luas wilayah, atau perbandingan ukurannya, menjadi terdistorsi.
Proyeksi peta dunia. (Sumber: dw.com.id)
Greenland nampak begitu luas pada peta
Hal ini terjadi pada proyeksi Mercator. Pada proyeksi Mercator, semakin jauh suatu wilayah dari khatulistiwa, semakin besar pula wilayah tersebut tampak di peta. Luas Greenland pada peta semacam itu kira-kira sama dengan luas seluruh benua Afrika, meskipun pada kenyataannya Afrika 14 kali lebih besar.
Publik dapat memilih alternatif yang lebih akurat dalam hal luas wilayah, mengikuti proyeksi Equal Earth yang baru saja disetujui oleh Majelis Umum PBB. Pada peta ini, perbandingan ukuran digambarkan sesuai skala sebenarnya. Dengan demikian masalah Greenland yang nampak begitu luas pun dapat teratasi. Namun, konsekuesi lain dari peta Equal Earth, bentuk dan perbandingan sudut terkadang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Setiap representasi peta memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tergantung pada tujuan penggunaannya, dan karenanya memiliki alasannya sendiri. Untuk navigasi, peta Mercator tetaplah berguna.
Di bidang pendidikan, ada solusi lain yang sangat pragmatis yang tidak menjadi perdebatan: Representasi Bumi dalam wujud bola dunia, untuk memperkenalkan bentuknya secara keseluruhan kepada para pelajar. (Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman/Diadaptasi oleh Sorta Caroline/Editor: Yuniman Farid)/dw.com/id. []
RADARMEDAN.COM — Aktivitas seorang perempuan yang menggunakan sejumlah nama akun dan mencantumkan berbagai gelar akademik serta profesi kedokteran di media sosial TikTok menjadi perhatian publik.
Perempuan yang disebut bernama Nurlian Galingging itu diketahui tampil dengan sejumlah gelar, di antaranya profesor, dokter spesialis . . .
RADARMEDAN.COM – Konflik seputar pengosongan fasilitas Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) memanas dan berujung ke ranah hukum pidana. Menyusul eksekusi pengosongan oleh pihak kampus pada Senin (10/8/2026), Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th., M.Div., resmi melaporkan Rektor USU beserta sejumlah pihak ke Sentra Pelayanan Kepolisian . . .
RADARMEDAN.com – Juara lima kali Piala Dunia FIFA, Brasil, ditahan Maroko bermain imbang 1-1 sampai turun minum di Grup C Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pagi ini, 14/6/2026, pagi WIB di New Jersey Stadium, New York City, New York, Amerika Serikat (AS).
Timnas Negeri Samba justru duluan tertinggal 0-1 sampai turun minum ketika di . . .
RADARMEDAN.COM – Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Utara mengungkap kasus dugaan tindak pidana penyiaran dan penyediaan konten bermuatan pornografi melalui siaran langsung (live streaming) di platform TikTok.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumut, Kombes . . .
RADARMEDAN.COM – Gelombang perlawanan jemaat terhadap rencana pengosongan paksa Gedung Gereja Oikoumene (POUK) Universitas Sumatera Utara (USU) makin memanas paska terbitnya surat pengosongan yang kedua. Buntunya komunikasi dengan pihak kampus membuat Tim Hukum Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara menolak keras surat . . .
RADARMEDAN.COM - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi melantik sejumlah pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Pemko Medan, Kamis (16/4/2026). Dalam pelantikan yang berlangsung di Balai Kota ini, Rico Waas memberikan peringatan keras berupa tenggat waktu (deadline) selama enam bulan bagi para pejabat yang baru dilantik . . .
RADARMEDAN.COM - Belakangan ini, tensi di Kota Medan lagi naik gara-gara polemik Surat Edaran (SE) Wali Kota soal penataan daging non-halal. Dari aksi ribuan massa di Balai Kota sampai munculnya gerakan tandingan, suasananya jadi makin "panas". Tapi tunggu dulu, warga Medan jangan mau cuma jadi penonton yang gampang disulut. Kita harus . . .
RADARMEDAN.COM - Gelombang protes ribuan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan memadati depan Kantor Wali Kota dan gedung DPRD Medan, Kamis (26/2/2026).
Massa menuntut pencabutan Surat Edaran (SE) Wali Kota Medan yang dinilai diskriminatif dan mengancam keberlangsungan usaha pedagang . . .
RADARMEDAN.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pencabutan izin terhadap puluhan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran di kawasan hutan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo . . .
RADARMEDAN.COM - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas angkat bicara terkait dana bantuan dari Bank Dunia sebesar Rp 1,5 triliun untuk program pengendalian banjir di Kota Medan. Ia membantah bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengelola dana batuan tersebut.
Rico menjelaskan bahwa realisasi dana bantuan tersebut, mengelola adalah Balai . . .